Alokasi dana yang cukup besar ini diarahkan untuk satu
program unggulan yang telah melalui kajian mendalam: Budidaya Intensif Cabai
Nano.
Dari Aceh ke Lahan Desa: Potensi Cabai Nano
Cabai Nano, atau yang dikenal luas sebagai varietas cabai
rawit jumbo, dipilih sebagai komoditas utama. Pemilihan ini didasarkan pada
tingginya permintaan pasar lokal dan regional, serta nilai jualnya yang
cenderung stabil dan menguntungkan. BUMDes secara khusus mengusahakan bibit
unggul varietas ini yang diklaim memiliki produktivitas tinggi, dengan
referensi utama pada bibit berkualitas dari Aceh.
Direktur BUMDes menjelaskan bahwa besarnya anggaran ini
memungkinkan BUMDes untuk berinvestasi pada infrastruktur penunjang yang lebih
mumpuni. "Dengan Rp140 juta, kami tidak hanya membeli benih dan pupuk,
tetapi juga membangun sistem sederhana yang efektif dan membeli peralatan
pertanian modern yang dapat menunjang efisiensi kerja. Ini adalah investasi
jangka panjang," tegasnya.
Optimalisasi Lahan dan Manajemen Mutu
Proyek ini dilaksanakan di atas lahan milik desa yang telah
disiapkan seluas 3.750 meter persegi, atau ekuivalen dengan enam gulung
mulsa besar. Meskipun luasannya terukur, fokus utama adalah pada manajemen mutu
dan intensifikasi pertanian.
Penggunaan anggaran yang besar memastikan bahwa seluruh
kebutuhan produksi, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan dasar organik dan
anorganik yang seimbang, pemasangan mulsa, hingga kebutuhan pestisida nabati
dan kimia (jika diperlukan), dapat terpenuhi secara optimal. Manajemen yang
baik dari BUMDes diharapkan dapat menghasilkan panen Cabai Nano dengan kualitas
premium dan kuantitas maksimal di setiap musimnya.
Pemberdayaan Warga Melalui PKTD
Komitmen sosial tetap menjadi prioritas. Meskipun anggaran
yang dikelola besar, fokus BUMDes dalam pelaksanaan tetap mengedepankan prinsip
Padat Karya Tunai Desa (PKTD). Untuk tahap operasional awal, BUMDes merekrut lima
(5) orang tenaga kerja lokal dari kelompok warga kurang mampu atau
pengangguran.
Tenaga kerja ini bertanggung jawab penuh mulai dari tahap
persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan harian, hingga proses pemanenan. Skema
PKTD ini memastikan bahwa Rp140 juta tersebut tidak hanya menjadi modal usaha,
tetapi juga langsung berkontribusi pada peningkatan daya beli lima keluarga di Kampung
Bumi Ayu.
PLD Jalaluddin_TMG




.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar